Did you know?......
1st
Saat bersin, kita pasti sering mendengar orangbilang bless you. Hal ini memang sudah menjadi tradisi, terutama di Negara barat. Menurut penelitian medis, setiap kali kita bersin, jantung kita berhanti selama stu millisecond. Selain itu, pada abad pertengahan, orang-orang yakin, saat bersin jantung kita berhenti berdenyut, dan jiwa akan meninggalkan tubuh sehingga dapat direnggut oleh roh jahat. Makanya, diucapkanlah blesss you, supaya orang itu diberkahi Tuhan dan terhindar dari sesuatu yang buruk.
2nd
Bersin terlalu keras ternyata bisa mematahkan tulang iga, memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher, dan mengakibatkan kematian. Iiihh.. serem banget yach… makanya pas bersin,..ingat-ingat agar bersinnya jangan terlalu nafsu…
3rd
Mungkin, orang yang paling rajin belajar di dunia adalah orang yunani. Orang yunani tempo dulu memiliki kebiasaan untuk mengisi waktu luang dengan cara mengunjungi tempat atau orang yang mereka anggap pandai untuk menannyakan berbagai macam hal yang ingin mereka ketahui. Karena kebiasaan inilah sekolah pertama kali di bentuk. Dan itu pula sebabnya kata sekolah berasal dari bahasa yunani skhole, scola, scolae.
4th
Percaya nggak percaya tapi kita bisa tetap hidup bahkan setelah limpa kecil, perut, salah satu ginjal, satu paru-paru, 75% hati, dan 80% usus besar kita diangkat.
5th
Setiap menit, 300 juta sel dalam tubuh kita mati dan digantikan dengan yang baru. Biarpun terdengar banyak, tapi jumlah ini hanya 0,0001% dari keseluruhan sel yang digantikan oleh tubuh kita setiap harinya.
6th
Bisa dibilang hamper mustahil bagi kita untuk bersin tanpa menutup mata.
7th
Perut kita harus memproduksi lapisan lender setiap dua minggu sekali, kalau nggak dia bakalan ‘menelan’ literally dirinya sendiri….
8th
Untuk mengeluarkan satu kata saja, tubuh kita harus menggerakkan 72 otot yang berbeda wow…
9th
Saat bersin, seluruh organ dan system tubuh kita (bahkan jantung) berhenti berfungsi…
10th
Tanpa ludah, kita nggak bakal bisa merasakan makanan yang kita makan.
11th
Otot di lidah ternyata merupakan otot terkuat di seluruh tubuh kita.
12th
Tulang paha kita lebihh kuat dari pada beton.
13th
Otot yang membuat mata berkedip adalah otot tercepat di tubuh kita. Otot ini bisa berkedip sebanyak lima kali dalam sedetik. Makanya kita bisa berkedip sebanyak15.000 kali dalam sehari.
14th
Kuku di tangan tumbuh empat kali lebih cepat dibandingkan kuku kaki dan kuku di jari tengah tangan kita adalah yang tumbuh paling cepat.
15th
Paru-paru kini berukuran lebih kecil dibandingkan yang kanan supaya ada tempat buat menaruh jantung kita.
16th
Cemberut sebanyak 2000 kali akan menghasilkan satu kerutan di wajah kita.
17th
Saat cemberut kita ‘memaksa’ 43 otot tubuh kita bekerja, sementara kita hanya memerlukan 17 otot untuk menampilkan seulas senyum.
ALL ABouT MY PosTinG
Minggu, 26 September 2010
SEJARAH AWAL SITUBONDO KOTA SANTRI.....
Berdasarkan Legenda Pangeran Situbondo, nama Kabupaten Situbondo berasal dan narna Pangeran Situbondo atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo, dimana sepengetahuan masyarakat Situbondo bahwa Pangeran Situbondo tidak pernah menampakkan din, ha! tersebut dikarenakan keberadaannya di Kabupaten Situbondo kemungkinan sudah dalam keadaan meninggal-dunia akibat kekalahan pertarungannya dengan Joko Jumput, sehingga hanya ditandai dengan ditemukannya sebuah 'odheng' (ikat kepala).
Pangeran Situbondo yang ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan dan sekarang dijadikan Ibukota Kabupaten Situbondo.Sedangkan menurut pemeo yang berkembang di masyarakat, arti kata SITUBONDO berasal dan kata : SITI = tanah dan BANDO = ikat , ha! tersebut dikaitkan dengan suatu keyakinan bahwa orang pendatang akan diikat untuk menetap di tanah Situbondo, kenjitaan mi mendekati kebenaran k banyak orang pendatang yang akhirnya menetap di Kabupaten Situbondo.
LEGENDA PANGERAN SITUBONDO
Pengeran Situbondo atau Pengeran Aryo Gajah Situbondo besaral dan Madura, pada suatu ketika dia ingin meminang Putni Adipati Suroboyo yang terkenal cantik, maka datanglah Pangeran Situbondo ke Surabaya untuk melamar Putri Adipati Suroboyo, naniun sayang keinginan Pangeran Situbondo sebenarnya ditolak oleh Adipati Suroboyo, akan tetapi penolakannya tidak secara terus-terang hanya diberi persyaratan untuk membábat hutan di sebelah Timur Surabaya, padahal persyaratan tersebut hanyalah suatu alasan yang maksudnya untuk mengulur-ulur waktu saja, sambil merencanakan siasat bagaimana caranya dapat menyingkirkan Pangeran Situbondo;Kesempatan Adipati Suroboyo menjalankan rencananya terbuka ketika keponakannya yang bernama Joko Taruno dan Kediri, karena rupanya Joko Taruno juga bermaksud menyunting putrinya, dan Adipati Suroboyo tidak keberatan namun dengan syarat Joko Taruno harus mengalahkan Pangeran Situbondo tenlebih dahulu. Terdorong. kejnginannya untuk menyunting sang putri, maka berangkatlah Joko Taruno ke hutan untuk menantang Pangeran Situbondo, namun sayang Joko Taruno kalah dalam pertarungan tetapi kekalahannya tidak sampai terbunuh, sehingga Joko Taruno masih sempat mengadakan sayembara bahwa "barang siapa bisa mengalahkan Pangeran Situbondo akan mendapatkan hadiah separuh kekayaannya".Mendengar sayembara tersebut datanglah Joko Jumput putra Mbok Rondo Prabankenco untuk mencobar maka ditantanglah Pangeran Situbondo oleh Joko Jumput, dan ternyata dalam pertarungan tersebut dimenangkan Joko Jumput, sedangkan Pangeran Situbondo tertendang jauh ke arah Timur hingga sampai di daerah Kabupaten Situbondo ditandai dengan ditemukannya sebuah 'odheng' (ikat kepala) Pangeran Situbondo, yang tepatnya ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan yang sekanang menjadi Ibukota Kabupaten Situbondo.Selanjutnya kembali ke Surabaya dimana di hadapan Adipati Suroboyo kemenangan Joko Jumput atas Pangeran Situbondo diakui oleh Joko Taruno sebagai kemenangannya, narnun Adipati Suroboyo tidak begitu saja mempercayainya, maka untuk membuktikannya' disuruhlah keduanya bertarung untuk menentukan siapayang menjadi pemenang sesungguhnya. Akhirnya pada saat pertarungan terjadi Joko Taruno tertimpa kutukan menjadi patung "Joko Dolog" akibat kebohongannya.
SEJARAH KOTA SITUBONDO
Sejarah Kabupaten Situbondo tidak tenlepas dan sejarah Karesidenan Besuki, sehingga kita perlu mengkaji terlebih dahulu sejarah Karesidenan Besuki.Yang membabat Karesidenan Besuki pertama kali adalah Ki Pateh Abs (± th 1700) selanjutnya dipasrahkan kepada Tumenggung Joyo Lelono. Karena pada saat itu juga Belanda sudah menguasai Pulau Jawa (± th 1743) terutama di dáerah pesisir tennasuk pula Karesidenan Besuki dan dengan segala tipu-dayanya, maka pada akhirnya Tumenggung Joyo' Lebono tidak berdaya hingga Karesidenan Besuki dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.Pada rnasanya (± th 1798) Pemerintahan Belanda pernah kekurangan keuangan untuk rnembiayai Pemerintahannya, sehingga Pulau Jawa pernah dikontrakkan kepada orang China, kemudian datanglah Raffles (± th 1811 - 1816) dan Inggris yang mengganti kekuasaan Belanda dan menebus Pulau Jawa, namun kekuasaan Inggris hanya bertahan beberapa tahun saja, selanjutnya Pulau Jawa di kuasai kembali o!eh Belanda, dan diangkatlah Raden Noto Kusumo putra dan Pangeran Sumenep Madura yang bergelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat I (± th 1820) sebagai Residen Pertama Karesidenan Besuki.Da!am masa Pemerlntahan Kacten I I banyak membantu I-'emenntaii Belanda dalam membangun Kabupaten Situbondo, antara-lain Pembangunan Dam Air Pmtu Lima di Desa Kotakan Situbondot$etelah Raden Prawirodiningrat I meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah kaden Prawirodiningrat II' (± th 1830). Dálam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II banyak menghasilkan karya yang cukup menonjol antara-lain berdirinya Pabrik Gula di Kabupaten Situbondo, dimulai dan PG. Demaas, PG. Wringinanorn, PG. Panji, dan PG. Olean, maka atas jasanya tersebut Pemerintah Belanda memberikan hadiah berupa "Kalung Emas Bandul Singa".Perlu diketahui pula pada masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II wilayahnya hingga Kabupaten Probolinggo, terbukti salah seorang putranya yang bernama Raden Suringrono menj adi Bupati Probolinggo.Setelah Raden Prawirodiningrat II meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah Raden Prawirodiningrat III (± th 1840). Tetapi dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat III perkembangan Karesidenan Besuki kalah maju dibanding Kabupaten Situbondo, mungkin karena di Kabupaten Situbondo mempunyai beberapa pelabuhan yang cukup menunjang perkembangannya, yaitu antara-lain : Pelabuhan Panarukan, Kalbut dan Jangkar, sehingga pada akhimya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Situbondo dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Dipoetro diangkat sebagai Bupati Pertama Kabupaten Situbondo, dan wilayah Karesidenan Besuki dibagi menjadi 2 yaitu: Besuki termasuk Suboh ke arah Barat hingga Banyuglugur ikut wilayah Kábupaten Bondowoso dan Miandingan ke arah Timur hingga Tapen ikut wilayah Kabupaten Situbondo, ha! mi terbukti dan logat bicara orang Besuki yang mirip dengan logat Bondowoso dan logat bicara orang Prajekan mirip dengan logat Situbondo.
PERUBAHAN NAMA KABUPATEN
Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah "Kabupaten Panarukan" dengan Ibukota Situbondo, sehingga dahulu pada masa Pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jenchal Daendels (± th 1808 - 1811) yang membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa dikenal dengan sehutan "Jalan Anyer - Panarukan" atau lebih dikenal lagi "Jalan Daendels", kemudian seiring waktu berjalan barulah pada masa Pemerintahan Bupati Achmad Tahir (± th 1972) diubah menjadi Kabupaten Situbondo dengan Ibukota Situbondo, berdasankan Peratunan Pemerintah RI Nomor. 28 / 1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daeráh
Perlu diketahui pula bahwa Kediaman Bupati Situbondo pada masa lalu belumlah berada di lingkungan Pendopo Kabupaten namun masih menempati rumah pribadinya, baru pada masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (± th 1900 - 1924), dia memperbaiki Pendopo Kabupaten sekaligus membangun Kediaman Bupati dan Paviliun Ajudan Bupati hingga sekarang mi, kemudian pada masa Pemerintahan Bupati Drs. H. Moh. Diaaman, Pemerintah Kabupaten Situbondo memperbaiki kembali Pendopo Kabupaten (± th 2002).
Pangeran Situbondo yang ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan dan sekarang dijadikan Ibukota Kabupaten Situbondo.Sedangkan menurut pemeo yang berkembang di masyarakat, arti kata SITUBONDO berasal dan kata : SITI = tanah dan BANDO = ikat , ha! tersebut dikaitkan dengan suatu keyakinan bahwa orang pendatang akan diikat untuk menetap di tanah Situbondo, kenjitaan mi mendekati kebenaran k banyak orang pendatang yang akhirnya menetap di Kabupaten Situbondo.
LEGENDA PANGERAN SITUBONDO
Pengeran Situbondo atau Pengeran Aryo Gajah Situbondo besaral dan Madura, pada suatu ketika dia ingin meminang Putni Adipati Suroboyo yang terkenal cantik, maka datanglah Pangeran Situbondo ke Surabaya untuk melamar Putri Adipati Suroboyo, naniun sayang keinginan Pangeran Situbondo sebenarnya ditolak oleh Adipati Suroboyo, akan tetapi penolakannya tidak secara terus-terang hanya diberi persyaratan untuk membábat hutan di sebelah Timur Surabaya, padahal persyaratan tersebut hanyalah suatu alasan yang maksudnya untuk mengulur-ulur waktu saja, sambil merencanakan siasat bagaimana caranya dapat menyingkirkan Pangeran Situbondo;Kesempatan Adipati Suroboyo menjalankan rencananya terbuka ketika keponakannya yang bernama Joko Taruno dan Kediri, karena rupanya Joko Taruno juga bermaksud menyunting putrinya, dan Adipati Suroboyo tidak keberatan namun dengan syarat Joko Taruno harus mengalahkan Pangeran Situbondo tenlebih dahulu. Terdorong. kejnginannya untuk menyunting sang putri, maka berangkatlah Joko Taruno ke hutan untuk menantang Pangeran Situbondo, namun sayang Joko Taruno kalah dalam pertarungan tetapi kekalahannya tidak sampai terbunuh, sehingga Joko Taruno masih sempat mengadakan sayembara bahwa "barang siapa bisa mengalahkan Pangeran Situbondo akan mendapatkan hadiah separuh kekayaannya".Mendengar sayembara tersebut datanglah Joko Jumput putra Mbok Rondo Prabankenco untuk mencobar maka ditantanglah Pangeran Situbondo oleh Joko Jumput, dan ternyata dalam pertarungan tersebut dimenangkan Joko Jumput, sedangkan Pangeran Situbondo tertendang jauh ke arah Timur hingga sampai di daerah Kabupaten Situbondo ditandai dengan ditemukannya sebuah 'odheng' (ikat kepala) Pangeran Situbondo, yang tepatnya ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan yang sekanang menjadi Ibukota Kabupaten Situbondo.Selanjutnya kembali ke Surabaya dimana di hadapan Adipati Suroboyo kemenangan Joko Jumput atas Pangeran Situbondo diakui oleh Joko Taruno sebagai kemenangannya, narnun Adipati Suroboyo tidak begitu saja mempercayainya, maka untuk membuktikannya' disuruhlah keduanya bertarung untuk menentukan siapayang menjadi pemenang sesungguhnya. Akhirnya pada saat pertarungan terjadi Joko Taruno tertimpa kutukan menjadi patung "Joko Dolog" akibat kebohongannya.
SEJARAH KOTA SITUBONDO
Sejarah Kabupaten Situbondo tidak tenlepas dan sejarah Karesidenan Besuki, sehingga kita perlu mengkaji terlebih dahulu sejarah Karesidenan Besuki.Yang membabat Karesidenan Besuki pertama kali adalah Ki Pateh Abs (± th 1700) selanjutnya dipasrahkan kepada Tumenggung Joyo Lelono. Karena pada saat itu juga Belanda sudah menguasai Pulau Jawa (± th 1743) terutama di dáerah pesisir tennasuk pula Karesidenan Besuki dan dengan segala tipu-dayanya, maka pada akhirnya Tumenggung Joyo' Lebono tidak berdaya hingga Karesidenan Besuki dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.Pada rnasanya (± th 1798) Pemerintahan Belanda pernah kekurangan keuangan untuk rnembiayai Pemerintahannya, sehingga Pulau Jawa pernah dikontrakkan kepada orang China, kemudian datanglah Raffles (± th 1811 - 1816) dan Inggris yang mengganti kekuasaan Belanda dan menebus Pulau Jawa, namun kekuasaan Inggris hanya bertahan beberapa tahun saja, selanjutnya Pulau Jawa di kuasai kembali o!eh Belanda, dan diangkatlah Raden Noto Kusumo putra dan Pangeran Sumenep Madura yang bergelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat I (± th 1820) sebagai Residen Pertama Karesidenan Besuki.Da!am masa Pemerlntahan Kacten I I banyak membantu I-'emenntaii Belanda dalam membangun Kabupaten Situbondo, antara-lain Pembangunan Dam Air Pmtu Lima di Desa Kotakan Situbondot$etelah Raden Prawirodiningrat I meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah kaden Prawirodiningrat II' (± th 1830). Dálam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II banyak menghasilkan karya yang cukup menonjol antara-lain berdirinya Pabrik Gula di Kabupaten Situbondo, dimulai dan PG. Demaas, PG. Wringinanorn, PG. Panji, dan PG. Olean, maka atas jasanya tersebut Pemerintah Belanda memberikan hadiah berupa "Kalung Emas Bandul Singa".Perlu diketahui pula pada masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II wilayahnya hingga Kabupaten Probolinggo, terbukti salah seorang putranya yang bernama Raden Suringrono menj adi Bupati Probolinggo.Setelah Raden Prawirodiningrat II meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah Raden Prawirodiningrat III (± th 1840). Tetapi dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat III perkembangan Karesidenan Besuki kalah maju dibanding Kabupaten Situbondo, mungkin karena di Kabupaten Situbondo mempunyai beberapa pelabuhan yang cukup menunjang perkembangannya, yaitu antara-lain : Pelabuhan Panarukan, Kalbut dan Jangkar, sehingga pada akhimya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Situbondo dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Dipoetro diangkat sebagai Bupati Pertama Kabupaten Situbondo, dan wilayah Karesidenan Besuki dibagi menjadi 2 yaitu: Besuki termasuk Suboh ke arah Barat hingga Banyuglugur ikut wilayah Kábupaten Bondowoso dan Miandingan ke arah Timur hingga Tapen ikut wilayah Kabupaten Situbondo, ha! mi terbukti dan logat bicara orang Besuki yang mirip dengan logat Bondowoso dan logat bicara orang Prajekan mirip dengan logat Situbondo.
PERUBAHAN NAMA KABUPATEN
Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah "Kabupaten Panarukan" dengan Ibukota Situbondo, sehingga dahulu pada masa Pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jenchal Daendels (± th 1808 - 1811) yang membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa dikenal dengan sehutan "Jalan Anyer - Panarukan" atau lebih dikenal lagi "Jalan Daendels", kemudian seiring waktu berjalan barulah pada masa Pemerintahan Bupati Achmad Tahir (± th 1972) diubah menjadi Kabupaten Situbondo dengan Ibukota Situbondo, berdasankan Peratunan Pemerintah RI Nomor. 28 / 1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daeráh
Perlu diketahui pula bahwa Kediaman Bupati Situbondo pada masa lalu belumlah berada di lingkungan Pendopo Kabupaten namun masih menempati rumah pribadinya, baru pada masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (± th 1900 - 1924), dia memperbaiki Pendopo Kabupaten sekaligus membangun Kediaman Bupati dan Paviliun Ajudan Bupati hingga sekarang mi, kemudian pada masa Pemerintahan Bupati Drs. H. Moh. Diaaman, Pemerintah Kabupaten Situbondo memperbaiki kembali Pendopo Kabupaten (± th 2002).
Rabu, 04 Agustus 2010
OUR UNIQUE ATMOSPHERE....
The fact that the moon’s surface is covered with meteorite impact craters is obvious to us today. Though the moon is not far from us, impact craters are few and far between on the earth. As it turns out, the earth has received just as many incoming meteorites as the moon, but the presence of the atmosphere has determined the fate of many of them. Small meteorites burn up in the atmosphere before ever reaching the earth. Those that do hit the surface and create an impact crater are lost to us in a different way – the craters are quickly eroded by weather generated in the atmosphere, and the evidence is washed away. The moon, on the other hand, has no atmosphere, and thus every meteor aimed at the moon hits it, and the craters have remained essentially unchanged for 4 billion years.
In addition to gases, the atmosphere also contains particulate matter such as dust, volcanic ash, rain, and snow. These are, of course, highly variable and are generally less persistent than gas concentrations, but they can sometimes remain in the atmosphere for relatively long periods of time. Volcanic ash from the 1991 eruption of Mt. Pinatubo in the Philippines, for example, darkened skies around the globe for over a year.
Though the major components of the atmosphere vary little today, they have changed dramatically over the entire age of the earth, about 4.6 billion years. The early atmosphere was hardly the life-sustaining blanket of air that it is today; most geologists believe that the main constituents then were nitrogen gas and carbon dioxide, but no free oxygen. In fact, there is no evidence for free oxygen in the atmosphere until about 2 billion years ago, when photosynthesizing bacteria evolved and began taking in atmospheric carbon dioxide and releasing oxygen. The amount of oxygen in the atmosphere has risen steadily from 0 percent 2 billion years ago to about 21 percent today.
The two most important instruments for taking measurements in the earth’s atmosphere were developed hundreds of years ago: Galileo is credited with inventing the thermometer in 1593, and Evangelista Torricelli invented the barometer in 1643. With these two instruments, temperature and pressure could be recorded at any time and at any place. Of course, the earliest pressure and temperature measurements were taken at the earth’s surface. It was a hundred years before the thermometer and barometer went aloft. While many people are familiar with Ben Franklin’s kite and key experiment that tested lightning for the presence of electricity, few realize that kites were the main vehicle for obtaining atmospheric measurements above the surface of the earth. Throughout the eighteenth and nineteenth centuries, kite-mounted instruments collected pressure, temperature, and humidity readings; unfortunately, scientists could only reach up to an altitude of about 3 km with this technique.
Unmanned balloons were able to take measurements at higher altitudes than kites, but because they were simply released with no passengers and no strings attached, they had to be retrieved in order to obtain the data that had been collected. This changed with the development of the radiosonde, an unmanned balloon capable of achieving high altitudes, in the early 1930s. The radiosonde included a radio transmitter among its many instruments, allowing data to be transmitted as it was being collected so that the balloons no longer needed to be retrieved. A radiosonde network was developed in the United States in 1937, and continues to this day under the auspices of the National Weather Service.
The lowermost 12 to 18 km of the atmosphere, called the troposphere, is where all weather occurs – clouds form and precipitation falls, wind blows, humidity varies from place to place, and the atmosphere interacts with the surface of the earth below. Within the troposphere, temperature decreases with altitude at a rate of about 6.5° C per kilometer. At 8,856 m high, Mt. Everest still reaches less than halfway through the troposphere. Assuming a sea level temperature of 26° C (80° F), that means the temperature on the summit of Everest would be around -31° C (-24° F)! In fact, temperature at Everest’s summit averages -36° C, whereas temperatures in New Delhi (in nearby India), at an elevation of 233 m, average about 28° C.
At the uppermost boundary of the troposphere, air temperature reaches about -100° C and then begins to increase with altitude. This layer of increasing temperature is called the stratosphere. The cause of the temperature reversal is a layer of concentrated ozone. Ozone’s ability to absorb incoming ultraviolet (UV) radiation from the sun had been recognized in 1881, but the existence of the ozone layer at an altitude of 20 to 50 km was not postulated until the 1920s. By absorbing UV rays, the ozone layer both warms the air around it and protects us on the surface from the harmful short-wavelength radiation that can cause skin cancer.
It is important to recognize the difference between the ozone layer in the stratosphere and ozone present in trace amounts in the troposphere. Stratospheric ozone is produced when energy from the sun breaks apart O2 gas molecules into O atoms; these O atoms then bond with other O2 molecules to form O3, ozone. This process was first described in 1930 by Sydney Chapman, a geophysicist who synthesized many of the known facts about the ozone layer. Tropospheric ozone, on the other hand, is a pollutant produced when emissions from fossil-fuel burning interact with sunlight.
Above the stratosphere, temperature begins to drop again in the next layer of the atmosphere called the mesosphere, as seen in the previous figure. This temperature decrease results from the rapidly decreasing density of the air at this altitude. Finally, at the outer reaches of the earth’s atmosphere, the intense, unfiltered radiation from the sun causes molecules like O2 and N2 to break apart into ions. The release of energy from these reactions actually causes the temperature to rise again in the thermosphere, the outermost layer. The thermosphere extends to about 500 km above the surface of the earth, still a few hundred kilometers below the altitude of most orbiting satellites.
Atmospheric pressure can be imagined as the weight of the overlying column of air. Unlike temperature, pressure decreases exponentially with altitude. Traces of the atmosphere can be detected as far as 500 km above the surface of the earth, but 80 percent of the atmosphere’s mass is contained within the 18 km closest to the surface. Atmospheric pressure is generally measured in millibars (mb); this unit of measurement is equivalent to 1 gram per centimeter squared (1 g/cm2). Other units are occasionally used, such as bars, atmospheres, or millimeters of mercury. The correspondence between these units is shown in the table below.
Though other planets host atmospheres, the presence of free oxygen and water vapor makes our atmosphere unique as far as we know. These components both encouraged and protected life on earth as it developed, not only by providing oxygen for respiration, but by shielding organisms from harmful UV rays and by incinerating small meteors before they hit the surface. Additionally, the composition and structure of this unique resource are important keys to understanding circulation in the atmosphere, biogeochemical cycling of nutrients, short-term local weather patterns, and long-term global climate changes.
| |
Figure 1: Craters on the far side of the moon (L) and Manicouagan crater in Quebec (R). Image courtesy of NASA. |
Composition of the Earth's Atmosphere
The early Greeks considered "air" to be one of four elementary substances; along with earth, fire, and water, air was viewed as a fundamental component of the universe. By the early 1800s, however, scientists such as John Dalton recognized that the atmosphere was in fact composed of several chemically distinct gases, which he was able to separate and determine the relative amounts of within the lower atmosphere. He was easily able to discern the major components of the atmosphere: nitrogen, oxygen, and a small amount of something incombustible, later shown to be argon. The development of the spectrometer in the 1920s allowed scientists to find gases that existed in much smaller concentrations in the atmosphere, such as ozone and carbon dioxide. The concentrations of these gases, while small, varied widely from place to place. In fact, atmospheric gases are often divided up into the major, constant components and the highly variable components, as listed below:| Nitrogen (N2) | 78.08% |
| Oxygen (O2) | 20.95% |
| Argon (Ar) | 0.93% |
| Neon, Helium, Krypton | 0.0001% |
Table 1: Constant Components. Proportions remain the same over time and location.
| Carbon dioxide (CO2) | 0.038% |
| Water vapor (H20) | 0-4% |
| Methane (CH4) | trace |
| Sulfur dioxide (SO2) | trace |
| Ozone (O3) | trace |
| Nitrogen oxides (NO, NO2, N2O) | trace |
Table 2: Variable Components. Amounts vary over time and location.Although both nitrogen and oxygen are essential to human life on the planet, they have little effect on weather and other atmospheric processes. The variable components, which make up far less than 1 percent of the atmosphere, have a much greater influence on both short-term weather and long-term climate. For example, variations in water vapor in the atmosphere are familiar to us as relative humidity. Water vapor, CO2, CH4, N2O, and SO2 all have an important property: they absorb heat emitted by the earth and thus warm the atmosphere, creating what we call the "greenhouse effect." Without these so-called greenhouse gases, the surface of the earth would be about 30 degrees Celsius cooler - too cold for life to exist as we know it. Though the greenhouse effect is sometimes portrayed as a bad thing, trace amounts of gases like CO2 warm our planet’s atmosphere enough to sustain life. Global warming, on the other hand, is a separate process that can be caused by increased amounts of greenhouse gases in the atmosphere.
In addition to gases, the atmosphere also contains particulate matter such as dust, volcanic ash, rain, and snow. These are, of course, highly variable and are generally less persistent than gas concentrations, but they can sometimes remain in the atmosphere for relatively long periods of time. Volcanic ash from the 1991 eruption of Mt. Pinatubo in the Philippines, for example, darkened skies around the globe for over a year.
Though the major components of the atmosphere vary little today, they have changed dramatically over the entire age of the earth, about 4.6 billion years. The early atmosphere was hardly the life-sustaining blanket of air that it is today; most geologists believe that the main constituents then were nitrogen gas and carbon dioxide, but no free oxygen. In fact, there is no evidence for free oxygen in the atmosphere until about 2 billion years ago, when photosynthesizing bacteria evolved and began taking in atmospheric carbon dioxide and releasing oxygen. The amount of oxygen in the atmosphere has risen steadily from 0 percent 2 billion years ago to about 21 percent today.
Measuring the atmosphere
We now have continuous satellite monitoring of the atmosphere and Doppler radar to tell us whether or not we will experience rain anytime soon; however, atmospheric measurements used to be few and far between. Today, measurements such as temperature and pressure not only help us predict the weather, but also help us look at long-term changes in global climate (see our Temperature module). The first atmospheric scientists were less concerned with weather prediction, however, and more interested in the composition and structure of the atmosphere.The two most important instruments for taking measurements in the earth’s atmosphere were developed hundreds of years ago: Galileo is credited with inventing the thermometer in 1593, and Evangelista Torricelli invented the barometer in 1643. With these two instruments, temperature and pressure could be recorded at any time and at any place. Of course, the earliest pressure and temperature measurements were taken at the earth’s surface. It was a hundred years before the thermometer and barometer went aloft. While many people are familiar with Ben Franklin’s kite and key experiment that tested lightning for the presence of electricity, few realize that kites were the main vehicle for obtaining atmospheric measurements above the surface of the earth. Throughout the eighteenth and nineteenth centuries, kite-mounted instruments collected pressure, temperature, and humidity readings; unfortunately, scientists could only reach up to an altitude of about 3 km with this technique.
| ||
Figure 2: Scientist launches a radiosonde. Instruments for collecting data are in the white and orange box. |
Temperature in the Atmosphere
Through examination of measurements collected by radiosonde and aircraft (and later by rockets), scientists became aware that the atmosphere is not uniform. Many people had long recognized that temperature decreased with altitude - if you’ve ever hiked up a tall mountain, you know to bring a jacket to wear at the top even when it is warm at the base - but it wasn’t until the early 1900s that radiosondes revealed a layer, about 18 km above the surface, where temperature abruptly changed and began to increase with altitude. The discovery of this reversal led to division of the atmosphere into layers based on their thermal properties.
| |
Figure 3: This graph shows how temperature varies with altitude in earth's atmosphere. |
At the uppermost boundary of the troposphere, air temperature reaches about -100° C and then begins to increase with altitude. This layer of increasing temperature is called the stratosphere. The cause of the temperature reversal is a layer of concentrated ozone. Ozone’s ability to absorb incoming ultraviolet (UV) radiation from the sun had been recognized in 1881, but the existence of the ozone layer at an altitude of 20 to 50 km was not postulated until the 1920s. By absorbing UV rays, the ozone layer both warms the air around it and protects us on the surface from the harmful short-wavelength radiation that can cause skin cancer.
It is important to recognize the difference between the ozone layer in the stratosphere and ozone present in trace amounts in the troposphere. Stratospheric ozone is produced when energy from the sun breaks apart O2 gas molecules into O atoms; these O atoms then bond with other O2 molecules to form O3, ozone. This process was first described in 1930 by Sydney Chapman, a geophysicist who synthesized many of the known facts about the ozone layer. Tropospheric ozone, on the other hand, is a pollutant produced when emissions from fossil-fuel burning interact with sunlight.
Above the stratosphere, temperature begins to drop again in the next layer of the atmosphere called the mesosphere, as seen in the previous figure. This temperature decrease results from the rapidly decreasing density of the air at this altitude. Finally, at the outer reaches of the earth’s atmosphere, the intense, unfiltered radiation from the sun causes molecules like O2 and N2 to break apart into ions. The release of energy from these reactions actually causes the temperature to rise again in the thermosphere, the outermost layer. The thermosphere extends to about 500 km above the surface of the earth, still a few hundred kilometers below the altitude of most orbiting satellites.
Pressure in the atmosphere
| |
Figure 4: Pressure and density decrease rapidly with altitude. |
bars | millibars | atmospheres | millimeters of mercury | |||
1.013 bar | = | 1013 mb | = | 1 atm | = | 760 mm Hg |
Table 3: Correspondence of atmospheric measurement units.At sea level, pressure ranges from about 960 to 1,050 mb, with an average of 1,013 mb. At the top of Mt. Everest, pressure is as low as 300 mb. Because gas pressure is related to density, this low pressure means that there are approximately one-third as many gas molecules inhaled per breath on top of Mt. Everest as at sea level – which is why climbers experience ever more severe shortness of breath the higher they go, as less oxygen is inhaled with every breath.
Though other planets host atmospheres, the presence of free oxygen and water vapor makes our atmosphere unique as far as we know. These components both encouraged and protected life on earth as it developed, not only by providing oxygen for respiration, but by shielding organisms from harmful UV rays and by incinerating small meteors before they hit the surface. Additionally, the composition and structure of this unique resource are important keys to understanding circulation in the atmosphere, biogeochemical cycling of nutrients, short-term local weather patterns, and long-term global climate changes.
BETAPA PENTINGNYA SEBUAH TANGGUNG JAWAB
TANGGUNG JAWAB
tanggung jawab adalah sebuah hal penting yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari...
yang tidak bisa dan tidak boleh kita hindari dan tinggalkan...
karena sebuah tanggung jawab yang besarlah yang dimiliki oleh seseorang yang menjadikan dirinya dipilih menjadi pemimpin oleh masyarakat..
sekarang coba bayangkan apabila seseorang atau seorang pemimpin tidak memiliki sebuah tanggung jawab itu, atau bisa dibilang memiliki, akan tetapi dia tidak sungguh-sungguh memegang tanggung jawab itu...
kita sebagai generasi muda, yang kelak akan menjadi pemimpin, bahkan detak ini kita telah menjadi pemimpin untuk diri kita sendiri....
maka dari itu, kita harus memegang teguh tanggung jawab yang harus benar-benar kita pertanggung jawabkan itu...^_^....
tanggung jawab adalah sebuah hal penting yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari...
yang tidak bisa dan tidak boleh kita hindari dan tinggalkan...
karena sebuah tanggung jawab yang besarlah yang dimiliki oleh seseorang yang menjadikan dirinya dipilih menjadi pemimpin oleh masyarakat..
sekarang coba bayangkan apabila seseorang atau seorang pemimpin tidak memiliki sebuah tanggung jawab itu, atau bisa dibilang memiliki, akan tetapi dia tidak sungguh-sungguh memegang tanggung jawab itu...
kita sebagai generasi muda, yang kelak akan menjadi pemimpin, bahkan detak ini kita telah menjadi pemimpin untuk diri kita sendiri....
maka dari itu, kita harus memegang teguh tanggung jawab yang harus benar-benar kita pertanggung jawabkan itu...^_^....
Selasa, 03 Agustus 2010
YAA SSUUDAAHHLAAHH!!!!
Ketika mimpimu yg begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm) Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be OKAY
yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada
juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang
Sempat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum *****hir
satukan langkah..langkah yg beriring!
genggam hati, rangkul emosi!
Genggamlah hatiku, satukan langkah kit
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da sea
peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yg menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)
satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yg ditunggu
BAHAGIA..HINGGA UJUNG WAKTU.
So, don't ever give up before you try guyss...
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm) Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be OKAY
yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada
juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang
Sempat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum *****hir
satukan langkah..langkah yg beriring!
genggam hati, rangkul emosi!
Genggamlah hatiku, satukan langkah kit
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da sea
peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yg menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)
satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yg ditunggu
BAHAGIA..HINGGA UJUNG WAKTU.
So, don't ever give up before you try guyss...
di dormm dinginn bangett!!!!
kenapa sekarang di asrama dinginn bangedd ych....
kalau kayag ginii jadi,ny pengenn bu"g teyuzZZZ
kalau kayag ginii jadi,ny pengenn bu"g teyuzZZZ
Langganan:
Postingan (Atom)
